100% Kecewa, Travel Umroh Garut Bermasalah dan 28 Jamaah Umroh Ditelantarkan

Rp16.750.000

NaikTravelBandung.com – Kasus dugaan penelantaran jemaah umrah kembali menyedot perhatian publik setelah viral di media sosial. Kali ini, sorotan tertuju pada 28 jemaah umrah asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang disebut sebut mengalami masalah selama menjalankan ibadah bersama Travel Disty Amanah Tour.

Informasi yang beredar luas di berbagai platform digital memunculkan kekhawatiran keluarga jemaah di tanah air. Menanggapi ramainya pemberitaan tersebut, salah seorang perwakilan jemaah bernama Dicky Cahyadi akhirnya angkat bicara.

Ia menjelaskan kondisi terkini para jemaah yang saat ini berada di Madinah. Menurut Dicky, seluruh jemaah dalam keadaan sehat dan aman, meskipun sempat ada beberapa orang yang mengalami gangguan kesehatan ringan.

Baca Juga: Rekomendasi Travel Umroh Garut Terbaik

Dicky memastikan bahwa kondisi kesehatan jemaah kini sudah berangsur membaik. Ia juga menegaskan bahwa situasi di Madinah relatif terkendali dan tidak separah yang dikhawatirkan publik. Klarifikasi ini disampaikan untuk meredam kepanikan keluarga dan kerabat jemaah yang sempat cemas setelah melihat informasi yang beredar di media sosial.

Lebih lanjut, Dicky menyampaikan kabar penting terkait kepulangan jemaah. Ia mengatakan bahwa seluruh rombongan dijadwalkan pulang ke Indonesia pada tanggal 25 November 2025. Kepulangan tersebut dilakukan dengan cara membeli tiket secara mandiri, karena tidak adanya kepastian fasilitas kepulangan dari pihak travel.

Ia menambahkan, keputusan membeli tiket mandiri diambil demi memastikan keselamatan dan kepastian kepulangan seluruh jemaah. Langkah ini terpaksa dilakukan setelah berbagai upaya komunikasi tidak membuahkan hasil yang jelas. Dicky juga menyampaikan pesan kepada keluarga jemaah agar tetap tenang dan tidak terpancing kabar simpang siur.

Meski kondisi jemaah sudah terpantau aman, persoalan kerugian yang dialami belum selesai. Dicky mengungkapkan bahwa terdapat kerugian baik secara material maupun imaterial yang dirasakan oleh para jemaah. Sebagai perwakilan, ia berjanji akan membawa persoalan tersebut ke meja pembahasan bersama manajemen dan pemilik Disty Amanah Tour.

Menurut Dicky, pembahasan ini bertujuan untuk mencari solusi yang adil bagi seluruh jemaah. Ia menegaskan bahwa para jemaah tidak hanya menuntut kepastian, tetapi juga pertanggungjawaban yang jelas atas kejadian yang mereka alami selama menjalankan ibadah umrah.

Namun, jika upaya penyelesaian secara musyawarah tidak membuahkan hasil, Dicky menyatakan pihaknya tidak akan ragu untuk menempuh jalur hukum. Langkah hukum ini bisa dilakukan secara pribadi maupun kolektif, dengan tujuan mengusut tuntas kasus tersebut hingga ada kejelasan dan keadilan bagi para jemaah.

Ia menegaskan bahwa proses hukum bukan sekadar bentuk pelampiasan kekecewaan, melainkan upaya untuk memberikan efek jera. Dengan adanya penegakan hukum yang tegas, diharapkan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang dan dapat menjadi peringatan bagi penyelenggara travel umrah lainnya.

Selain itu, Dicky juga menyampaikan permintaan tegas kepada pihak berwenang agar izin penyelenggara perjalanan ibadah umrah atau PPIU milik Disty Amanah Tour dicabut. Ia menilai, sanksi administratif berupa pencabutan izin atau blacklist sangat penting untuk melindungi masyarakat dari potensi kerugian yang sama.

Menurutnya, peristiwa ini seharusnya menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi industri travel umrah. Sistem pengelolaan jemaah, terutama saat berada di luar negeri, harus diperkuat dengan prosedur yang jelas dan transparan. Tanpa sistem yang kuat, risiko penelantaran jemaah akan selalu menghantui.

Dicky menekankan pentingnya koordinasi yang solid antara pihak travel, mitra di luar negeri, serta jemaah itu sendiri. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, kesalahpahaman mudah terjadi dan berujung pada situasi yang merugikan banyak pihak.

Insiden yang sempat menggemparkan publik ini akhirnya menemui titik terang setelah kepastian kepulangan seluruh jemaah berhasil dikordinasikan. Dicky Cahyadi, yang juga dikenal sebagai pengusaha muda asal Garut, mengambil peran aktif dalam mengurus berbagai kebutuhan jemaah selama masa sulit tersebut.

Ia berasal dari kawasan Villa Lembah Asri, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul. Perannya sebagai koordinator di lapangan dinilai sangat membantu jemaah untuk tetap tenang dan fokus menyelesaikan ibadah di tengah keterbatasan yang ada.

Situasi yang awalnya diwarnai kebingungan, ketidakpastian, serta miskomunikasi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Penyelenggaraan ibadah umrah bukan hanya soal keberangkatan, tetapi juga tentang tanggung jawab penuh sejak jemaah berangkat hingga kembali ke tanah air.

Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya kehati hatian dalam memilih biro perjalanan umrah. Legalitas, rekam jejak, serta kesiapan sistem penyelenggara harus menjadi pertimbangan utama sebelum mempercayakan perjalanan ibadah yang bersifat sakral.

Di sisi lain, pemerintah dan instansi terkait diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggara travel umrah. Pengawasan yang ketat dan berkelanjutan diyakini mampu meminimalkan risiko kejadian serupa di kemudian hari.

Dengan adanya perhatian publik dan sorotan media, diharapkan kasus ini dapat menjadi momentum perbaikan menyeluruh. Bukan hanya untuk menyelesaikan persoalan yang ada, tetapi juga untuk menciptakan penyelenggaraan ibadah umrah yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab bagi seluruh jemaah.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Hanya pelanggan yang sudah login dan telah membeli produk ini yang dapat memberikan ulasan.

Scroll to Top