100% Kecewa, Travel Umroh Cianjur Bermasalah Dan Penipuan Banyak Jemaah

Rp6.000.000

NaikTravelBandung.com – Puluhan warga di Kabupaten Cianjur diduga menjadi korban penipuan berkedok paket umrah murah. Kasus ini mencuat setelah sejumlah calon jemaah menyadari janji keberangkatan yang tak kunjung terwujud meski uang telah disetorkan.

Iming iming biaya umrah di bawah Rp 6 juta menjadi pemantik utama minat warga. Tawaran tersebut terdengar sangat menggiurkan, terlebih disertai klaim adanya bantuan donatur dari Timur Tengah yang disebut siap menanggung sebagian hingga seluruh biaya perjalanan ibadah.

Salah satu korban, Aban Muhammad Sa’ban berusia 31 tahun, menceritakan awal mula keterlibatannya dalam program tersebut. Ia mengaku mengenal sosok berinisial M saat menjalankan ibadah umrah sebelumnya dalam satu rombongan yang sama.

Pertemuan di Tanah Suci itu membuat Aban tidak menaruh kecurigaan. Hubungan yang terjalin dalam suasana ibadah menumbuhkan rasa percaya, sehingga ketika M menawarkan program umrah murah, tawaran tersebut diterima tanpa banyak pertanyaan.

Baca Juga: Rekomendasi Travel Umroh Cianjur Terbaik

Menurut penuturan Aban, M menyampaikan bahwa cukup dengan membayar Rp 6 juta, seseorang sudah bisa berangkat umrah. Bahkan, sebagian calon jemaah dijanjikan berangkat tanpa biaya sama sekali karena disebut mendapatkan subsidi penuh.

Alasan murahnya biaya dikaitkan dengan adanya donatur dari Timur Tengah. Dikisahkan pula bahwa bantuan itu berasal dari seseorang yang bernazar setelah anaknya sembuh dari sakit, lalu menyalurkan dana untuk membantu calon jemaah umrah.

Program tersebut disebut berasal dari kerabat M yang berada di Jakarta. Kerabat inilah yang diklaim sebagai penghubung utama, sementara M bertugas menjalankan dan memasarkan program kepada warga di wilayah Cianjur.

Status M sebagai tokoh di lingkungannya semakin menguatkan kepercayaan masyarakat. Aban mengaku tidak ragu mendaftarkan diri bersama istri dan orang tuanya karena merasa program itu aman dan memiliki latar belakang yang meyakinkan.

Kepercayaan tersebut semakin besar ketika beredar kabar bahwa belasan orang sudah lebih dulu diberangkatkan. Informasi itu membuat Aban dan warga sekitar semakin yakin bahwa program tersebut benar adanya.

Warga di Desa Kertajaya, Kecamatan Tanggeung, menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak menerima tawaran tersebut. Dari waktu ke waktu, jumlah pendaftar terus bertambah seiring penyebaran informasi dari mulut ke mulut.

Aban kemudian dipercaya menjadi koordinator bagi calon jemaah lainnya. Hingga saat ini, ia mencatat lebih dari 50 orang mendaftar melalui koordinasi yang ia lakukan, sebagian besar berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Para calon jemaah awalnya dijanjikan berangkat pada September 2023. Namun, jadwal tersebut beberapa kali mengalami penundaan dengan berbagai alasan yang disampaikan secara lisan.

Setelah penundaan pertama, muncul janji baru bahwa keberangkatan akan dilakukan pada Desember 2023. Pada periode itu, situasi sempat terlihat lebih meyakinkan karena telah dilakukan manasik umrah.

Manasik tersebut diselenggarakan atas nama salah satu travel. Kegiatan itu membuat calon jemaah kembali berharap, karena rangkaian persiapan ibadah seolah berjalan sesuai rencana.

Namun hingga waktu yang dijanjikan berlalu, keberangkatan tidak juga terlaksana. Jadwal yang diberikan ternyata hanya sebatas rencana tanpa realisasi pembayaran ke pihak travel.

Aban menyebut fakta bahwa biaya belum disetorkan ke travel baru diketahui belakangan. Informasi tersebut menjadi titik awal munculnya kecurigaan di kalangan calon jemaah.

Seiring waktu, kesadaran mulai tumbuh bahwa program umrah murah tersebut diduga kuat merupakan modus penipuan. Kekecewaan pun meluas, terutama karena sebagian besar korban telah menaruh harapan besar untuk beribadah.

Kondisi ekonomi korban yang tergolong sederhana membuat dampak kasus ini terasa lebih berat. Dana yang disetorkan merupakan hasil tabungan bertahun tahun, bahkan ada yang berasal dari hasil pinjaman.

Kasus ini kemudian mendapatkan pendampingan hukum. Topan Nugraha selaku kuasa hukum korban menyampaikan bahwa laporan resmi telah dilayangkan ke Polres Cianjur.

Menurut Topan, jumlah korban diduga jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan. Dari data sementara, korban diperkirakan mencapai lebih dari 400 orang yang tersebar dalam 28 koordinator berbeda.

Meski demikian, baru sekitar 50 orang yang secara resmi memberikan kuasa dan ikut melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Proses pendataan korban lain masih terus dilakukan.

Pihak kuasa hukum berharap aparat penegak hukum bergerak cepat. Selain karena jumlah korban yang cukup besar, kasus ini juga menyangkut masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas.

Sementara itu, Kepolisian Resor Cianjur menyatakan telah menerima laporan dugaan penipuan tersebut. Tim penyidik langsung diterjunkan untuk mengumpulkan keterangan dan bukti awal.

Kasat Reskrim Polres Cianjur, AKP Tono Listianto, menyampaikan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti laporan ini sesuai prosedur hukum yang berlaku. Penyelidikan lanjutan masih terus berjalan.

Kasus dugaan penipuan berkedok umrah murah ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat. Tawaran biaya yang terlalu rendah dan tidak masuk akal perlu disikapi dengan kehati hatian agar kejadian serupa tidak terulang.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Hanya pelanggan yang sudah login dan telah membeli produk ini yang dapat memberikan ulasan.

Scroll to Top